Buddha Diam Kemurahan
Hati
Dahulu
kala, ada seorang yang sangat kaya yang hidup di Benares, India Utara. Ketika
ayahnya meninggal, ia mewarisi harta yang lebih banyak lagi. la berpikir, "Mengapa
aku harus menggunakan harta ini hanya untuk kebahagiaanku sendiri? Biarlah
saudara-saudaraku yang lain juga ikut menikmatinya".
Jadi
ia membangun ruang makan di empat penjuru kota ?Utara, Selatan, Timur, dan
Barat. Di aula-aula ini ia memberikan makanan gratis bagi siapa saja yang
membutuhkannya. Ia menjadi sangat terkenal karena kedermawanannya. Demikian
juga ia dan para pengikutnya terkenal sebagai pelaku 5 Langkah Latihan (Panca
Sila).
Pada
saat itu, ada seorang Buddha Diam yang bermeditasi di dekat hutan Benares.
Beliau disebut Buddha karena beliau telah mencapai penerangan. Ini artinya
beliau tidak lagi merasakan dirinya sendiri, yang disebut ‘aku?atau ‘saya? Yang
ada hanyalah kehidupan itu sendiri. Jadi ia mampu menjalani kehidupan seperti
apa adanya, pada setiap saat ini. Menjadi satu dengan kehidupan, beliau dipenuhi
dengan belas kasih dan simpati terhadap penderitaan orang lain. Jadi beliau
berkeinginan untuk mengajar dan membantu mereka untuk mencapai penerangan
seperti dirinya. Tetapi pada waktu terjadinya cerita ini adalah waktu yang
sangat menyedihkan. Waktu di mana tidak ada orang lain yang dapat mengerti
tentang Kebenaran, serta menjalani kehidupan seperti yang terjadi. Dan karena
Buddha tersebut mengetahui hal ini, beliau menjadi Diam. Sembari bermeditasi di
hutan, Buddha Diam ini memasuki tahapan batin yang sangat tinggi. Konsentrasi
beliau begitu tingginya sehingga beliau dapat bertahan dalam satu posisi selama
7 hari 7 malam, tanpa makan dan minum.
Ketika
beliau telah kembali ke dalam keadaan biasa, beliau berada dalam keadaan
kelaparan yang membahayakan. Pada waktu yang biasa, beliau pergi untuk
berpindapatta di aula milik orang yang kaya raya tersebut.
Ketika
orang kaya tersebut baru saja duduk untuk makan siang, ia melihat Buddha Diam
datang dengan mangkoknya. Ia berdiri dari tempat duduk dengan hormat. Ia
menyuruh pembantunya untuk pergi dan memberikan makanan kepada beliau.
Sementara itu, Mara, dewa kematian, terus mengintai. Mara adalah yang dipenuhi dengan keserakahan untuk menguasai semua makhluk. Ia hanya akan mendapatkan kekuatan ini dari rasa takut akan kematian.
Sementara itu, Mara, dewa kematian, terus mengintai. Mara adalah yang dipenuhi dengan keserakahan untuk menguasai semua makhluk. Ia hanya akan mendapatkan kekuatan ini dari rasa takut akan kematian.
Karena
seorang Buddha hidup dengan damai pada setiap saat, beliau tidak lagi mempunyai
keinginan untuk dilahirkan kembali, dan karenanya tidak takut akan kematian.
Karena, Mara tidak dapat menguasai Buddha Diam, ia ingin menghancurkan beliau.
Ketika ia melihat bahwa beliau berada dalam bahaya kematian akibat kelaparan,
ia tahu bahwa kesempatannya telah datang. Sebelum pembantu itu dapat meletakkan
makanan ke dalam mangkok Buddha Diam, Mara menciptakan selokan dalam dengan
batubara menyala merah untuk tiba-tiba muncul memisahkan mereka. Tampak
bagaikan jalan masuk ke neraka.
Ketika
melihat hal ini, pembantu tersebut ketakutan setengah mati. Ia berlari kembali
kepada tuannya. Orang kaya tersebut bertanya mengapa ia kembali tanpa memberikan
makanan persembahan tersebut. Pembantu tersebut menjawab, "Tuanku, ada
selokan dalam yang berisi penuh dengan batubara menyala merah tepat di hadapan
Buddha Diam".
Orang
kaya tersebut berpikir, "Orang ini pasti melihat yang
bukan-bukan". Jadi ia mengirim pembantu yang lain untuk memberikan
makanan persembahan tersebut. Pembantu yang ini pun ketakutan setengah mati
karena selokan batubara tersebut. Beberapa pelayan diperintahkan, tetapi
semuanya kembali karena ketakutan terhadap kematian.
Tuan
tersebut berpikir, "Tidak ragu lagi, pasti Mara, dewa kematian, sedang
mencoba untuk menghalangi perbuatan baikku memberikan persembahan makanan
kepada Buddha Diam. Karena perbuatan baik adalah awal dari jalan menuju
penerangan, Mara mencoba menghalangiku dengan berbagai cara. Tetapi ia tidak
mengerti keyakinanku kepada Buddha Diam, dan kuatnya keinginanku untuk
memberi".
Jadi
ia sendiri mengambil makanan persembahan tersebut untuk diberikan kepada Buddha
Diam. Ia juga melihat selokan dengan batubara menyala merah. Kemudian ia
melihat ke atas dan melihat Dewa Kematian yang mengerikan, melayang di udara.
Ia bertanya, "Siapa kamu?" Mara menjawab, "Aku adalah
Dewa Kematian!"
"Apakah
kamu yang menciptakan selokan api ini?"
tanya orang itu. "Ya, memang begitu", kata dewa tersebut. "Mengapa
kamu lakukan itu?" "Untuk mencegahmu memberikan persembahan makanan,
dengan begitu akan mengakibatkan Buddha Diam mati kelaparan! Dan juga untuk
mencegah perbuatan baikmu itu menolongmu mencapai penerangan, jadi kamu akan
tetap berada dalam kekuasaanku!" Orang kaya dari Benares itu menjawab,
"Oh Mara, dewa kematian, yang jahat, kamu tidak dapat membunuh Buddha
Diam, dan kamu tidak dapat mencegah perbuatan baikku! Marilah kita lihat niat
siapa yang lebih kuat!"
Kemudian
ia melihat selokan yang membara tersebut, dan berkata kepada Yang telah
Mencapai Penerangan, yang tenang dan lembut, "Oh, Buddha Diam, biarlah
sinar Kebenaran terus bersinar sebagai contoh bagi kami. Terimalah persembahan
untuk hidup ini!" Dengan berkata demikian, ia sama sekali melupakan
dirinya sendiri, dan pada saat itu pula tidak ada lagi rasa takut akan
kematian. Tepat sesaat ia melangkahkan kakinya ke dalam selokan membara itu, ia
merasa dirinya diangkat oleh setangkai bunga teratai yang sejuk. Mahkota bunga
tersebut mekar di udara, dan memenuhinya dengan wama keemasan. Sembari berdiri
di tengah bunga teratai ini, makhluk hebat ini ,menuangkan makanan persembahan
ke dalam mangkok Buddha Diam. Mara—dewa kematian—telah dikalahkan!
Sebagai
tanda terima kasih atas pemberian ini, Buddha Diam mengangkat tangannya
memberikan berkat. Orang kaya ini menunduk dengan hormat, menyatukan kedua
belah telapak tangannya di atas kepala. Kemudian Buddha Diam tersebut pergi
dari Benares, dan pergi menuju ke hutan Himalaya.
Masih
berdiri di tengah teratai yang indah tersebut, dengan sinar yang keemasan, tuan
yang murah hati tersebut mengajar para pengikutnya. Ia mengatakan kepada mereka
bahwa berlatih 5 Langkah Latihan (Panca Sila) penting artinya untuk memurnikan
batin. Ia mengatakan bahwa dengan batin yang murni, akan ada manfaat yang besar
dalam memberikan persembahan –yang benar-benar merupakan suatu pemberian
kehidupan! Ketika ia telah selesai mengajar, selokan membara tersebut
menghilang dan teratai yang sejuk itu pun menghilang.
PESAN
YANG ADA:
JANGANLAH
MEMPUNYAI RASA TAKUT KETIKA MELAKUKAN PERBUATAN-PERBUATAN YANG BAIK.
(Dikutip
dari Buku Mutiara Dhamma X, atas izin Ir. Lindawati T)
Dahulu
kala, di kota Gandhara di sebelah Utara India, ada sebuah kota yang bernama
Takkasila. Di kota itu, Makhluk yang akan mencapai Penerangan dilahirkan
sebagai seekor anak sapi khusus. Karena ia dibibitkan untuk kekuatan, ia dibeli
oleh seorang yang kaya raya. Ia menjadi sangat suka pada anak sapi itu dan
memberinya nama "Sukahati". Ia menjaganya dengan baik dan memberinya
makanan yang terbaik saja.
Ketika
Sukahati tumbuh menjadi seekor sapi yang besar dan kuat, ia berpikir, "Aku
dibesarkan oleh orang yang murah hati ini. Ia memberikan aku makanan yang baik
dan perhatian yang terus-menerus, meskipun terkadang ada kesulitan-kesulitan.
Sekarang aku adalah sapi yang telah tumbuh dewasa dan tidak ada sapi lain yang
dapat menarik kereta berat sekuat aku. Karena itu, aku ingin menggunakan
kekuatanku untuk memberikan sesuatu sebagai balas jasa kepada tuanku".
Jadi ia
berkata kepada tuannya, "Tuan, tolong carilah seorang pedagang yang
bangga karena mempunyai banyak sapi yang kuat. Tantanglah dia dengan mengatakan
bahwa sapi anda dapat menarik seratus kereta yang dimuati penuh".
Mengikuti nasihat itu, orang kaya tersebut pergi mencari pedagang semacam itu
dan membuka suatu percakapan. Sebentar kemudian ia menyinggung soal siapa yang
mempunyai sapi terkuat di kota.
Pedagang
itu berkata, "Banyak orang mempunyai sapi, tetapi tidak ada yang sekuat
kepunyaanku". Orang kaya tersebut berkata, "Tuan, saya
mempunyai seekor sapi yang dapat menarik seratus kereta yang dimuati
penuh". "Tidak, teman, di mana ada sapi semacam itu? Itu tidak dapat
dipercaya!" kata pedagang tersebut. Yang satunya berkata, "Aku
mempunyai seekor sapi seperti itu, tetapi saya ingin membuat satu
taruhan". Pedagang itu berkata, "Aku akan bertaruh 1000 koin
emas, bahwa sapimu tidak akan dapat menarik 100 kereta yang bermuatan
penuh". Jadi taruhan itu disetujui dan mereka menentukan tanggal dan
waktu untuk melaksanakan tantangan tersebut. Pedagang tersebut mengikat 100
kereta bermuatan penuh. Ia mengisinya dengan pasir dan bebatuan untuk
membuatnya menjadi sangat berat.
Orang kaya
tersebut memberi makan beras terbaik bagi sapi yang diberi nama Sukahati
tersebut. Ia memandikan dan menghiasnya dan mengalungkan rangkaian bunga di
lehernya. Kemudian ia memasang tali kereta yang pertama ke lehernya dan
menaikinya. Karena merasa berasal dari lingkungan kelas atas, ia tidak dapat
menolak godaan untuk membuat dirinya tampak sangat penting, dan berteriak
kepada sapinya, "Ayo tarik, kamu binatang dungu! Aku perintahkan padamu
untuk menarik, kau hewan besar yang tolol!"
Sapi yang
bernama Sukahati ini berpikir, "Tantangan ini adalah ideku! Aku tak
pernah berbuat apapun yang jelek kepada tuanku, akan tetapi ia menghinaku
dengan kata-kata yang kasar dan keras!" Jadi ia bersikokoh tinggal di
tempatnya dan menolak untuk menarik kereta-kereta itu. Pedagang tersebut
tertawa dan meminta uang kemenangannya. Orang kaya tersebut harus membayarnya
dengan 1000 koin emas. Ia pulang ke rumah dan duduk sedih karena kekalahan
tersebut, dan malu karena hembusan keangkuhannya. Sapi yang bernama Sukahati
tersebut pulang ke rumah dengan tenangnya. Ketika sampai di rumah, ia melihat
tuannya dengan sedih berbaring di sampingnya. Ia bertanya, "Tuan,
mengapa anda berbaring di sini seperti itu? Apakah anda tertidur? Anda kelihatan
sedih". Orang itu berkata, "Aku kehilangan 1000 koin emas
karena kamu. Dengan kerugian semacam itu, bagaimana aku dapat tidur?"
Sapi
tersebut menjawab, "Tuan, anda menyebut saya ‘tolol? Anda bahkan
melecutkan cambuk di udara di atas kepala saya. Dalam seluruh hidupku, apakah
saya pernah memecahkan apapun, melangkahi apapun, membuat kekotoran di tempat
yang salah, atau berkelakuan bagai ‘si tolol?dengan cara apapun?" Ia
menjawab, "Tidak, peliharaanku".
Sapi yang
bernama Sukahati berkata, "Kalau begitu tuan, mengapa anda memanggil
saya ‘hewan dungu? dan menghina saya di hadapan orang lain? Kesalahan terletak
pada anda. Saya tidak melakukan kesalahan apapun. Tetapi karena sekarang saya
merasa kasihan kepada anda, pergilah kembali kepada pedagang tersebut dan
buatlah taruhan yang sama untuk 2000 koin emas. Dan ingatlah untuk menggunakan
hanya kata-kata yang penuh hormat yang pantas saya terima".
Kemudian
orang kaya tersebut pergi kembali kepada si pedagang dan membuat taruhan 2000
koin emas. Pedagang tersebut mengira bahwa ini akan merupakan taruhan yang
mudah dimenangkan. Sekali lagi ia mengikat 100 kereta yang dipenuhi dengan
muatan. Sekali lagi orang kaya tersebut memberi makan dan memandikan sapi
tersebut, dan mengalungkan rangkaian bunga di lehernya. Ketika semuanya telah
siap, orang kaya tersebut menyentuh dahi Sukahati dengan bunga teratai, sebagai
ganti cambuknya. Berpikir dengan sayang seperti kepada anaknya sendiri, ia
berkata, "Anakku, tolong berikanlah kehormatan bagiku dengan menarik
100 kereta ini".
Demikianlah,
sapi yang hebat tersebut menarik dengan sepenuh kekuatan dan menarik keseratus
kereta tersebut, sampai kereta yang terbelakang berada pada posisi di mana
kereta pertama tadinya berada.
Pedagang
tersebut, dengan mulut terbuka lebar tidak percaya, harus membayar 2000 koin
emas. Semua yang menonton hal itu begitu terpesona sehingga mereka memberikan
penghormatan kepada sapi yang diberi nama Suka-hati tersebut dengan
hadiah-hadiah. Tetapi yang lebih penting bagi orang kaya tersebut daripada
kemenangannya adalah, pelajaran yang berharga mengenai kerendahan hati dan
penghormatan.
PESAN YANG
ADA:
KATA-KATA
YANG KASAR TIDAK MEMBAWA MANFAAT. KATA-KATA YANG PENUH HORMAT MEMBAWA
KEBAHAGIAAN BAGI SEMUANYA.
(Dikutip
dari Buku Mutiara Dhamma X, atas izin Ir. Lindawati T)
Pada zaman Sang Buddha, terdapatlah seorang
Bhikkhu Arahat yang bernama Cakkhupala yang matanya buta. Suatu
hari, YM. Cakkhupala datang mengunjungi Sang Buddha di vihara Jetavana untuk
memberi hormat. Suatu malam, ketika ia melakukan meditasi-jalan (cankamana), ia dengan tidak sengaja
menginjak beberapa ekor serangga.
Pada
pagi harinya, beberapa orang bhikkhu yang datang mengunjunginya melihat ada
beberapa ekor serangga yang mati. Mereka berpikir jelek terhadapnya dan
melaporkan hal ini kepada Sang Buddha. Sang Buddha menanyakan apakah mereka
melihat Cakkhupala membunuh serangga-serangga itu. Mereka mengatakan tidak.
Sang Buddha lalu berkata, "Sama seperti kalian tidak melihat ia
membunuh, begitu juga ia tidak melihat adanya serangga-serangga itu. lagipula.
sebagai seorang Arahat, ia tidak mempunyai kehendak/niat (cetana) untuk
membunuh serta tidak bersalah karena melakukan perbuatan yang tidak bermanfaat
itu". Ketika ditanya mengapa Cakkhupala buta padahal ia seorang
Arahat, Sang Buddha menceritakan kisah berikut untuk menjelaskan kealamiahan
dari Hukum Kamma.
Cakkhupala
pada kehidupan lampaunya adalah seorang dokter. Suatu kali ia dengan sengaja
telah membuat buta mata seorang pasien wanita. Alkisah, wanita itu pernah
berjanji akan menjadi pelayannya bersama anak-anaknya jika penyakit matanya
yang buta dapat disembuhkan. Karena takut bahwa ia dan anak-anaknya akan
menjadi pelayan, maka ia berbohong kepada dokter itu. Dia mengatakan bahwa
keadaan matanya semakin memburuk, padahal kenyataannya, matanya telah sembuh.
Sang dokter tahu bahwa wanita itu membohonginya. Karena itu, sebagai pembalasan
dendamnya, ia memberikan obat mata lain kepada wanita itu, yang membuat kedua
matanya buta total. Sebagai akibatnya dari perbuatan jahat ini, sang dokter
kehilangan penglihatannya (buta) dalam banyak kelahiran berikutnya.
Kemudian
Sang Buddha mengucapkan syair berikut:
"Semua
fenomena/bentuk-bentuk batin memiliki pikiran sebagai pelopornya; memiliki
pikiran sebagai pemimpinnya; dibuat oleh pikiran. Jika seseorang berbicara atau
bertindak dengan pikiran jahat, maka penderitaan (dukkha) akan mengikutinya
bagaikan roda pedati mengikuti jejak kaki lembu yang menarik kereta pedati
itu." (Dhammapada-1)
(Sumber: Realization of the Dhamma, Sayadaw U
Dhammapiya, Selangor Buddhist Vipassana
Society, Malaysia
1994. Dikutip dari Buku Mutiara Dhamma XII, atas izin Ir. Lindawati T)
Kekuatan
Tahayul
Dahulu
kala, Raja Brahmadatta memerintah di Benares, India Utara. Sang Bodhisatta,
Makhluk yang akan mencapai Penerangan, terlahir sebagai pangeran di negara itu.
Karena pintarnya, ia telah menyelesaikan seluruh pendidikannya kala ia berusia
16 tahun. Jadi pada usia yang sangat muda ayahnya telah menjadikan ia sebagai
orang kedua dalam pemerintahannya.
Pada
hari-hari itu, kebanyakan orang Benares memuja dewa-dewa. Mereka sangatlah
percaya tahayul. Mereka berpikir bahwa para dewalah yang menyebabkan terjadinya
sesuatu pada diri mereka, dan bukannya hasil dari perbuatan mereka sendiri.
Jadi mereka akan berdoa kepada para dewa ini dan minta pertolongan. Mereka akan
meminta pernikahan yang menguntungkan, atau kelahiran seorang anak, atau
kekayaan, ketenaran.
Mereka
akan berjanji kepada para dewa bahwa, jika doa mereka terkabul mereka akan
membayar pada dewa tersebut dengan persembahan. Sebagai tambahan selain bunga
dan wewangian, mereka membayangkan bahwa para dewa tersebut menginginkan
persembahan korban binatang. Jadi bila mereka berpikir bahwa para dewa telah
membantu, mereka akan membunuh banyak binatang-binatang - kambing, lembu, ayam,
babi, dsb.
Pangeran
tersebut melihat semua ini dan berpikir, "Binatang-binatang yang tak
berdaya ini juga merupakan sasaran sang raja, jadi aku harus melindungi mereka.
Orang-orang melakukan perbuatan tidak benar ini karena kebodohan dan
kepercayaan terhadap tahayul. Ini bukanlah agama yang sebenarnya. Karena agama
yang sebenarnnya menawarkan kehidupan seperti apa adannya, bukan pembunuhan.
Agama yang benar menawarkan kedamaian bukan pembunuhan.
"Aku
takut orang-orang ini terlalu mempercayai tahayul sehingga sukar bagi mereka
untuk meninggalkannya. Betapa menyedihkan. Tetapi mungkin paling tidak
kepercayaan mereka ini dapat diubah menjadi sesuatu yang berguna. Suatu hari
nanti aku akan menjadi raja, Jadi aku harus membuat rencana agar tahayul ini
dapat membantu mereka. Jika mereka harus memberikan persembahan biarlah mereka
membunuh ketamakan dan kebencian mereka sendiri dan bukannya membunuh
binatang-binatang yang tidak berdaya ini! Dengan demikian seluruh kerajaan akan
mendapatkan manfaat".
Jadi
pangeran yang pandai tersebut membuat rencana jangka panjang. Sering ia akan
mengedarai keretannya menuju sat pohon banyan yang terkenal tepat di luar kota.
Pohon itu sangat besar, banyak orang berdoa dan memberikan persembahan kepada
dewa yang mereka kira hidup di pohon itu. Pangeran itu turun dari keretannya
dan memberikan persembahan yang sama - dupa, bunga, wewangian dan air - tetapi
bukan persembahan binatang.
Dengan
cara demikian dia membuat suatu tontonan besar, dan kabar tentang persembahan
yang dilakukannya itu dengan segera tersebar luas. Segera, orang mengira bahwa
ia juga adalah salah satu pengikut dewa phon banyan tersebut.
Pada
saatnya raja Brahmadatta meninggal dan pangeran tersebut menjadi raja yang
baru. Ia memimpin sebagai seorang raja yang adil dan semua rakyatnya
mendapatkan manfaat. Jadi semua rakyat percaya dan menghormatinya sebagai
seorang raja yang adil dan bijaksana.
Kemudian
pada suatu hari, ia memutuskan bahwa telah tiba saatnya yang tepat untuk
melaksanakan rencananya. Jadi ia memanggil seluruh jajaran pemimpin rakyat Benares
ke aula kerajaan. Ia bertanya kepada mereka, "Para menteri dan rakyatku
yang setia, tahukah kalian bagaimana aku mampu memastikan bahwa nantinya aku
akan menjadi raja?" Tidak ada seorangpun dapat menjawab.
Ia
berkata, "Ingatkah kalian bahwa aku sering memberikan persembahan yang
manis-manis dan baik kepada dewa pohon banyan?" "Ya, tuanku",
kata mereka.
Raja
melanjutkan, "Pada tiap-tiap saat itu, aku berjanji pada dewa pohon banyan
yang hebat itu, Aku berdoa, 'Oh dewa yang hebat, jika anda membuatku menjadi
raja di Benares, aku akan memberikan persembahan yang khusus, lebih hebat dari
bunga dan wewangian'".
"Karena
sekarang aku telah menjadi raja, anda semua dapat melihat sendiri bahwa dewa
telah mengabulkan doaku. Jadi sekarang aku harus memenuhi janjiku dan memberikan
pesembahan khusus."
Semua
yang berada dalam aula tersebut menyetujuinya. Mereka berkata, "Kita harus
mempersiapkan persembahan ini dengan segera. Binatang apa yang hendak paduka
bunuh?"
Sang
Raja berkata, "Para pengikutku, aku bahagia kalian semua mau bekerjasama.
Aku berjanji pada dewa pohon banyan bahwa aku akan mempersembahkan siapa saja
yang gagal berlatih Lima Langkah Latihan (Panca
Sila). Yaitu, mereka yang menghancurkan kehidupan, mengambil apa yang tidak
diberikan, melakukan kesalahan dalam hal seksual, berbicara bohong, atau
kehilangan akal sehatnya karena alkohol. Aku berjanji, bahwa jika ada yang
melakukan hal ini, aku akan mempersembahkan nyali, daging, dan darah mereka
pada altar dewa yang hebat tersebut!"
Karena
begitu percayanya akan tahayul, semua yang berada diaula menyetujuinya bahwa
hal ini harus dilakukan, atau dewa tentunya akan menghukum raja dan semua yang
ada dalam kerajaan itu.
Sang
raja berpikir, "Ah, begitu hebatnya kekuatan tahayul sampai-sampai semua
orang kehilangan akal sehatnya! Mereka tidak dapat melihat bahwa latihan
pertama adalah jangan membunuh. Jika aku mengorbankan salah satu dari mereka,
akulah yang akan berada di altar! Dan dengan kekuatan seperti itu aku dapat
membuat janji semacam itu, dan tidak harus melakukannya!"
Jadi,
dengan keyakinan penuh pada kekuatan tahayul, sang Raja berkata kepada para
pimpinan rakyat, "Pergilah ke seluruh bagian kerajaan dan umumkanlah janji
yang telah kubuat kepada dewa pohon banyan. Kemudian umumkanlah bahwa seribu
orang pertama yang melanggar langkah-langkah latihan akan mendapatkan
kehormatan untuk menjadi persembahan, untuk memenuhi janji raja."
Demikianlah
dan terjadilah, orang-orang di Benares menjadi terkenal karena mereka
berhati-hati melatih Lima Latihan (Panca
Sila). Dan raja yang baik tersebut, yang mengenal dengan baik pengikutnya,
tidak mengorbankan siapapun.
PESAN
YANG ADA:
KORBANKANLAH
SENDIRI PERBUATAN SALAH ANDA, BUKANNYA BINATANG YANG TIDAK BERDAYA
http://www.geocities.com/bbcid.geo/cerita2.html#bhikkhu (Diakses tanggal 19 maret 2009)