Wednesday, February 6, 2019

Buddha Diam


Buddha Diam Kemurahan Hati
Dahulu kala, ada seorang yang sangat kaya yang hidup di Benares, India Utara. Ketika ayahnya meninggal, ia mewarisi harta yang lebih banyak lagi. la berpikir, "Mengapa aku harus menggunakan harta ini hanya untuk kebahagiaanku sendiri? Biarlah saudara-saudaraku yang lain juga ikut menikmatinya".
Jadi ia membangun ruang makan di empat penjuru kota ?Utara, Selatan, Timur, dan Barat. Di aula-aula ini ia memberikan makanan gratis bagi siapa saja yang membutuhkannya. Ia menjadi sangat terkenal karena kedermawanannya. Demikian juga ia dan para pengikutnya terkenal sebagai pelaku 5 Langkah Latihan (Panca Sila).
Pada saat itu, ada seorang Buddha Diam yang bermeditasi di dekat hutan Benares. Beliau disebut Buddha karena beliau telah mencapai penerangan. Ini artinya beliau tidak lagi merasakan dirinya sendiri, yang disebut ‘aku?atau ‘saya? Yang ada hanyalah kehidupan itu sendiri. Jadi ia mampu menjalani kehidupan seperti apa adanya, pada setiap saat ini. Menjadi satu dengan kehidupan, beliau dipenuhi dengan belas kasih dan simpati terhadap penderitaan orang lain. Jadi beliau berkeinginan untuk mengajar dan membantu mereka untuk mencapai penerangan seperti dirinya. Tetapi pada waktu terjadinya cerita ini adalah waktu yang sangat menyedihkan. Waktu di mana tidak ada orang lain yang dapat mengerti tentang Kebenaran, serta menjalani kehidupan seperti yang terjadi. Dan karena Buddha tersebut mengetahui hal ini, beliau menjadi Diam. Sembari bermeditasi di hutan, Buddha Diam ini memasuki tahapan batin yang sangat tinggi. Konsentrasi beliau begitu tingginya sehingga beliau dapat bertahan dalam satu posisi selama 7 hari 7 malam, tanpa makan dan minum.
Ketika beliau telah kembali ke dalam keadaan biasa, beliau berada dalam keadaan kelaparan yang membahayakan. Pada waktu yang biasa, beliau pergi untuk berpindapatta di aula milik orang yang kaya raya tersebut.
Ketika orang kaya tersebut baru saja duduk untuk makan siang, ia melihat Buddha Diam datang dengan mangkoknya. Ia berdiri dari tempat duduk dengan hormat. Ia menyuruh pembantunya untuk pergi dan memberikan makanan kepada beliau.

Sementara itu, Mara, dewa kematian, terus mengintai. Mara adalah yang dipenuhi dengan keserakahan untuk menguasai semua makhluk. Ia hanya akan mendapatkan kekuatan ini dari rasa takut akan kematian.
Karena seorang Buddha hidup dengan damai pada setiap saat, beliau tidak lagi mempunyai keinginan untuk dilahirkan kembali, dan karenanya tidak takut akan kematian. Karena, Mara tidak dapat menguasai Buddha Diam, ia ingin menghancurkan beliau. Ketika ia melihat bahwa beliau berada dalam bahaya kematian akibat kelaparan, ia tahu bahwa kesempatannya telah datang. Sebelum pembantu itu dapat meletakkan makanan ke dalam mangkok Buddha Diam, Mara menciptakan selokan dalam dengan batubara menyala merah untuk tiba-tiba muncul memisahkan mereka. Tampak bagaikan jalan masuk ke neraka.
Ketika melihat hal ini, pembantu tersebut ketakutan setengah mati. Ia berlari kembali kepada tuannya. Orang kaya tersebut bertanya mengapa ia kembali tanpa memberikan makanan persembahan tersebut. Pembantu tersebut menjawab, "Tuanku, ada selokan dalam yang berisi penuh dengan batubara menyala merah tepat di hadapan Buddha Diam".
Orang kaya tersebut berpikir, "Orang ini pasti melihat yang bukan-bukan". Jadi ia mengirim pembantu yang lain untuk memberikan makanan persembahan tersebut. Pembantu yang ini pun ketakutan setengah mati karena selokan batubara tersebut. Beberapa pelayan diperintahkan, tetapi semuanya kembali karena ketakutan terhadap kematian.
Tuan tersebut berpikir, "Tidak ragu lagi, pasti Mara, dewa kematian, sedang mencoba untuk menghalangi perbuatan baikku memberikan persembahan makanan kepada Buddha Diam. Karena perbuatan baik adalah awal dari jalan menuju penerangan, Mara mencoba menghalangiku dengan berbagai cara. Tetapi ia tidak mengerti keyakinanku kepada Buddha Diam, dan kuatnya keinginanku untuk memberi".
Jadi ia sendiri mengambil makanan persembahan tersebut untuk diberikan kepada Buddha Diam. Ia juga melihat selokan dengan batubara menyala merah. Kemudian ia melihat ke atas dan melihat Dewa Kematian yang mengerikan, melayang di udara. Ia bertanya, "Siapa kamu?" Mara menjawab, "Aku adalah Dewa Kematian!"
"Apakah kamu yang menciptakan selokan api ini?" tanya orang itu. "Ya, memang begitu", kata dewa tersebut. "Mengapa kamu lakukan itu?" "Untuk mencegahmu memberikan persembahan makanan, dengan begitu akan mengakibatkan Buddha Diam mati kelaparan! Dan juga untuk mencegah perbuatan baikmu itu menolongmu mencapai penerangan, jadi kamu akan tetap berada dalam kekuasaanku!" Orang kaya dari Benares itu menjawab, "Oh Mara, dewa kematian, yang jahat, kamu tidak dapat membunuh Buddha Diam, dan kamu tidak dapat mencegah perbuatan baikku! Marilah kita lihat niat siapa yang lebih kuat!"
Kemudian ia melihat selokan yang membara tersebut, dan berkata kepada Yang telah Mencapai Penerangan, yang tenang dan lembut, "Oh, Buddha Diam, biarlah sinar Kebenaran terus bersinar sebagai contoh bagi kami. Terimalah persembahan untuk hidup ini!" Dengan berkata demikian, ia sama sekali melupakan dirinya sendiri, dan pada saat itu pula tidak ada lagi rasa takut akan kematian. Tepat sesaat ia melangkahkan kakinya ke dalam selokan membara itu, ia merasa dirinya diangkat oleh setangkai bunga teratai yang sejuk. Mahkota bunga tersebut mekar di udara, dan memenuhinya dengan wama keemasan. Sembari berdiri di tengah bunga teratai ini, makhluk hebat ini ,menuangkan makanan persembahan ke dalam mangkok Buddha Diam. Mara—dewa kematian—telah dikalahkan!
Sebagai tanda terima kasih atas pemberian ini, Buddha Diam mengangkat tangannya memberikan berkat. Orang kaya ini menunduk dengan hormat, menyatukan kedua belah telapak tangannya di atas kepala. Kemudian Buddha Diam tersebut pergi dari Benares, dan pergi menuju ke hutan Himalaya.
Masih berdiri di tengah teratai yang indah tersebut, dengan sinar yang keemasan, tuan yang murah hati tersebut mengajar para pengikutnya. Ia mengatakan kepada mereka bahwa berlatih 5 Langkah Latihan (Panca Sila) penting artinya untuk memurnikan batin. Ia mengatakan bahwa dengan batin yang murni, akan ada manfaat yang besar dalam memberikan persembahan –yang benar-benar merupakan suatu pemberian kehidupan! Ketika ia telah selesai mengajar, selokan membara tersebut menghilang dan teratai yang sejuk itu pun menghilang.
PESAN YANG ADA:
JANGANLAH MEMPUNYAI RASA TAKUT KETIKA MELAKUKAN PERBUATAN-PERBUATAN YANG BAIK.
(Dikutip dari Buku Mutiara Dhamma X, atas izin Ir. Lindawati T)


Dahulu kala, di kota Gandhara di sebelah Utara India, ada sebuah kota yang bernama Takkasila. Di kota itu, Makhluk yang akan mencapai Penerangan dilahirkan sebagai seekor anak sapi khusus. Karena ia dibibitkan untuk kekuatan, ia dibeli oleh seorang yang kaya raya. Ia menjadi sangat suka pada anak sapi itu dan memberinya nama "Sukahati". Ia menjaganya dengan baik dan memberinya makanan yang terbaik saja.
Ketika Sukahati tumbuh menjadi seekor sapi yang besar dan kuat, ia berpikir, "Aku dibesarkan oleh orang yang murah hati ini. Ia memberikan aku makanan yang baik dan perhatian yang terus-menerus, meskipun terkadang ada kesulitan-kesulitan. Sekarang aku adalah sapi yang telah tumbuh dewasa dan tidak ada sapi lain yang dapat menarik kereta berat sekuat aku. Karena itu, aku ingin menggunakan kekuatanku untuk memberikan sesuatu sebagai balas jasa kepada tuanku".
Jadi ia berkata kepada tuannya, "Tuan, tolong carilah seorang pedagang yang bangga karena mempunyai banyak sapi yang kuat. Tantanglah dia dengan mengatakan bahwa sapi anda dapat menarik seratus kereta yang dimuati penuh". Mengikuti nasihat itu, orang kaya tersebut pergi mencari pedagang semacam itu dan membuka suatu percakapan. Sebentar kemudian ia menyinggung soal siapa yang mempunyai sapi terkuat di kota.
Pedagang itu berkata, "Banyak orang mempunyai sapi, tetapi tidak ada yang sekuat kepunyaanku". Orang kaya tersebut berkata, "Tuan, saya mempunyai seekor sapi yang dapat menarik seratus kereta yang dimuati penuh". "Tidak, teman, di mana ada sapi semacam itu? Itu tidak dapat dipercaya!" kata pedagang tersebut. Yang satunya berkata, "Aku mempunyai seekor sapi seperti itu, tetapi saya ingin membuat satu taruhan". Pedagang itu berkata, "Aku akan bertaruh 1000 koin emas, bahwa sapimu tidak akan dapat menarik 100 kereta yang bermuatan penuh". Jadi taruhan itu disetujui dan mereka menentukan tanggal dan waktu untuk melaksanakan tantangan tersebut. Pedagang tersebut mengikat 100 kereta bermuatan penuh. Ia mengisinya dengan pasir dan bebatuan untuk membuatnya menjadi sangat berat.
Orang kaya tersebut memberi makan beras terbaik bagi sapi yang diberi nama Sukahati tersebut. Ia memandikan dan menghiasnya dan mengalungkan rangkaian bunga di lehernya. Kemudian ia memasang tali kereta yang pertama ke lehernya dan menaikinya. Karena merasa berasal dari lingkungan kelas atas, ia tidak dapat menolak godaan untuk membuat dirinya tampak sangat penting, dan berteriak kepada sapinya, "Ayo tarik, kamu binatang dungu! Aku perintahkan padamu untuk menarik, kau hewan besar yang tolol!"
Sapi yang bernama Sukahati ini berpikir, "Tantangan ini adalah ideku! Aku tak pernah berbuat apapun yang jelek kepada tuanku, akan tetapi ia menghinaku dengan kata-kata yang kasar dan keras!" Jadi ia bersikokoh tinggal di tempatnya dan menolak untuk menarik kereta-kereta itu. Pedagang tersebut tertawa dan meminta uang kemenangannya. Orang kaya tersebut harus membayarnya dengan 1000 koin emas. Ia pulang ke rumah dan duduk sedih karena kekalahan tersebut, dan malu karena hembusan keangkuhannya. Sapi yang bernama Sukahati tersebut pulang ke rumah dengan tenangnya. Ketika sampai di rumah, ia melihat tuannya dengan sedih berbaring di sampingnya. Ia bertanya, "Tuan, mengapa anda berbaring di sini seperti itu? Apakah anda tertidur? Anda kelihatan sedih". Orang itu berkata, "Aku kehilangan 1000 koin emas karena kamu. Dengan kerugian semacam itu, bagaimana aku dapat tidur?"
Sapi tersebut menjawab, "Tuan, anda menyebut saya ‘tolol? Anda bahkan melecutkan cambuk di udara di atas kepala saya. Dalam seluruh hidupku, apakah saya pernah memecahkan apapun, melangkahi apapun, membuat kekotoran di tempat yang salah, atau berkelakuan bagai ‘si tolol?dengan cara apapun?" Ia menjawab, "Tidak, peliharaanku".
Sapi yang bernama Sukahati berkata, "Kalau begitu tuan, mengapa anda memanggil saya ‘hewan dungu? dan menghina saya di hadapan orang lain? Kesalahan terletak pada anda. Saya tidak melakukan kesalahan apapun. Tetapi karena sekarang saya merasa kasihan kepada anda, pergilah kembali kepada pedagang tersebut dan buatlah taruhan yang sama untuk 2000 koin emas. Dan ingatlah untuk menggunakan hanya kata-kata yang penuh hormat yang pantas saya terima".
Kemudian orang kaya tersebut pergi kembali kepada si pedagang dan membuat taruhan 2000 koin emas. Pedagang tersebut mengira bahwa ini akan merupakan taruhan yang mudah dimenangkan. Sekali lagi ia mengikat 100 kereta yang dipenuhi dengan muatan. Sekali lagi orang kaya tersebut memberi makan dan memandikan sapi tersebut, dan mengalungkan rangkaian bunga di lehernya. Ketika semuanya telah siap, orang kaya tersebut menyentuh dahi Sukahati dengan bunga teratai, sebagai ganti cambuknya. Berpikir dengan sayang seperti kepada anaknya sendiri, ia berkata, "Anakku, tolong berikanlah kehormatan bagiku dengan menarik 100 kereta ini".
Demikianlah, sapi yang hebat tersebut menarik dengan sepenuh kekuatan dan menarik keseratus kereta tersebut, sampai kereta yang terbelakang berada pada posisi di mana kereta pertama tadinya berada.
Pedagang tersebut, dengan mulut terbuka lebar tidak percaya, harus membayar 2000 koin emas. Semua yang menonton hal itu begitu terpesona sehingga mereka memberikan penghormatan kepada sapi yang diberi nama Suka-hati tersebut dengan hadiah-hadiah. Tetapi yang lebih penting bagi orang kaya tersebut daripada kemenangannya adalah, pelajaran yang berharga mengenai kerendahan hati dan penghormatan.

PESAN YANG ADA:
KATA-KATA YANG KASAR TIDAK MEMBAWA MANFAAT. KATA-KATA YANG PENUH HORMAT MEMBAWA KEBAHAGIAAN BAGI SEMUANYA.
(Dikutip dari Buku Mutiara Dhamma X, atas izin Ir. Lindawati T)


Pada zaman Sang Buddha, terdapatlah seorang Bhikkhu Arahat yang bernama Cakkhupala yang matanya buta. Suatu hari, YM. Cakkhupala datang mengunjungi Sang Buddha di vihara Jetavana untuk memberi hormat. Suatu malam, ketika ia melakukan meditasi-jalan (cankamana), ia dengan tidak sengaja menginjak beberapa ekor serangga.
Pada pagi harinya, beberapa orang bhikkhu yang datang mengunjunginya melihat ada beberapa ekor serangga yang mati. Mereka berpikir jelek terhadapnya dan melaporkan hal ini kepada Sang Buddha. Sang Buddha menanyakan apakah mereka melihat Cakkhupala membunuh serangga-serangga itu. Mereka mengatakan tidak. Sang Buddha lalu berkata, "Sama seperti kalian tidak melihat ia membunuh, begitu juga ia tidak melihat adanya serangga-serangga itu. lagipula. sebagai seorang Arahat, ia tidak mempunyai kehendak/niat (cetana) untuk membunuh serta tidak bersalah karena melakukan perbuatan yang tidak bermanfaat itu". Ketika ditanya mengapa Cakkhupala buta padahal ia seorang Arahat, Sang Buddha menceritakan kisah berikut untuk menjelaskan kealamiahan dari Hukum Kamma.
Cakkhupala pada kehidupan lampaunya adalah seorang dokter. Suatu kali ia dengan sengaja telah membuat buta mata seorang pasien wanita. Alkisah, wanita itu pernah berjanji akan menjadi pelayannya bersama anak-anaknya jika penyakit matanya yang buta dapat disembuhkan. Karena takut bahwa ia dan anak-anaknya akan menjadi pelayan, maka ia berbohong kepada dokter itu. Dia mengatakan bahwa keadaan matanya semakin memburuk, padahal kenyataannya, matanya telah sembuh. Sang dokter tahu bahwa wanita itu membohonginya. Karena itu, sebagai pembalasan dendamnya, ia memberikan obat mata lain kepada wanita itu, yang membuat kedua matanya buta total. Sebagai akibatnya dari perbuatan jahat ini, sang dokter kehilangan penglihatannya (buta) dalam banyak kelahiran berikutnya.
Kemudian Sang Buddha mengucapkan syair berikut:
"Semua fenomena/bentuk-bentuk batin memiliki pikiran sebagai pelopornya; memiliki pikiran sebagai pemimpinnya; dibuat oleh pikiran. Jika seseorang berbicara atau bertindak dengan pikiran jahat, maka penderitaan (dukkha) akan mengikutinya bagaikan roda pedati mengikuti jejak kaki lembu yang menarik kereta pedati itu." (Dhammapada-1)
(Sumber: Realization of the Dhamma, Sayadaw U Dhammapiya, Selangor Buddhist Vipassana Society, Malaysia 1994. Dikutip dari Buku Mutiara Dhamma XII, atas izin Ir. Lindawati T)


Kekuatan Tahayul
Dahulu kala, Raja Brahmadatta memerintah di Benares, India Utara. Sang Bodhisatta, Makhluk yang akan mencapai Penerangan, terlahir sebagai pangeran di negara itu. Karena pintarnya, ia telah menyelesaikan seluruh pendidikannya kala ia berusia 16 tahun. Jadi pada usia yang sangat muda ayahnya telah menjadikan ia sebagai orang kedua dalam pemerintahannya.
Pada hari-hari itu, kebanyakan orang Benares memuja dewa-dewa. Mereka sangatlah percaya tahayul. Mereka berpikir bahwa para dewalah yang menyebabkan terjadinya sesuatu pada diri mereka, dan bukannya hasil dari perbuatan mereka sendiri. Jadi mereka akan berdoa kepada para dewa ini dan minta pertolongan. Mereka akan meminta pernikahan yang menguntungkan, atau kelahiran seorang anak, atau kekayaan, ketenaran.
Mereka akan berjanji kepada para dewa bahwa, jika doa mereka terkabul mereka akan membayar pada dewa tersebut dengan persembahan. Sebagai tambahan selain bunga dan wewangian, mereka membayangkan bahwa para dewa tersebut menginginkan persembahan korban binatang. Jadi bila mereka berpikir bahwa para dewa telah membantu, mereka akan membunuh banyak binatang-binatang - kambing, lembu, ayam, babi, dsb.
Pangeran tersebut melihat semua ini dan berpikir, "Binatang-binatang yang tak berdaya ini juga merupakan sasaran sang raja, jadi aku harus melindungi mereka. Orang-orang melakukan perbuatan tidak benar ini karena kebodohan dan kepercayaan terhadap tahayul. Ini bukanlah agama yang sebenarnya. Karena agama yang sebenarnnya menawarkan kehidupan seperti apa adannya, bukan pembunuhan. Agama yang benar menawarkan kedamaian bukan pembunuhan.
"Aku takut orang-orang ini terlalu mempercayai tahayul sehingga sukar bagi mereka untuk meninggalkannya. Betapa menyedihkan. Tetapi mungkin paling tidak kepercayaan mereka ini dapat diubah menjadi sesuatu yang berguna. Suatu hari nanti aku akan menjadi raja, Jadi aku harus membuat rencana agar tahayul ini dapat membantu mereka. Jika mereka harus memberikan persembahan biarlah mereka membunuh ketamakan dan kebencian mereka sendiri dan bukannya membunuh binatang-binatang yang tidak berdaya ini! Dengan demikian seluruh kerajaan akan mendapatkan manfaat".
Jadi pangeran yang pandai tersebut membuat rencana jangka panjang. Sering ia akan mengedarai keretannya menuju sat pohon banyan yang terkenal tepat di luar kota. Pohon itu sangat besar, banyak orang berdoa dan memberikan persembahan kepada dewa yang mereka kira hidup di pohon itu. Pangeran itu turun dari keretannya dan memberikan persembahan yang sama - dupa, bunga, wewangian dan air - tetapi bukan persembahan binatang.
Dengan cara demikian dia membuat suatu tontonan besar, dan kabar tentang persembahan yang dilakukannya itu dengan segera tersebar luas. Segera, orang mengira bahwa ia juga adalah salah satu pengikut dewa phon banyan tersebut.
Pada saatnya raja Brahmadatta meninggal dan pangeran tersebut menjadi raja yang baru. Ia memimpin sebagai seorang raja yang adil dan semua rakyatnya mendapatkan manfaat. Jadi semua rakyat percaya dan menghormatinya sebagai seorang raja yang adil dan bijaksana.
Kemudian pada suatu hari, ia memutuskan bahwa telah tiba saatnya yang tepat untuk melaksanakan rencananya. Jadi ia memanggil seluruh jajaran pemimpin rakyat Benares ke aula kerajaan. Ia bertanya kepada mereka, "Para menteri dan rakyatku yang setia, tahukah kalian bagaimana aku mampu memastikan bahwa nantinya aku akan menjadi raja?" Tidak ada seorangpun dapat menjawab.
Ia berkata, "Ingatkah kalian bahwa aku sering memberikan persembahan yang manis-manis dan baik kepada dewa pohon banyan?" "Ya, tuanku", kata mereka.
Raja melanjutkan, "Pada tiap-tiap saat itu, aku berjanji pada dewa pohon banyan yang hebat itu, Aku berdoa, 'Oh dewa yang hebat, jika anda membuatku menjadi raja di Benares, aku akan memberikan persembahan yang khusus, lebih hebat dari bunga dan wewangian'".
"Karena sekarang aku telah menjadi raja, anda semua dapat melihat sendiri bahwa dewa telah mengabulkan doaku. Jadi sekarang aku harus memenuhi janjiku dan memberikan pesembahan khusus."
Semua yang berada dalam aula tersebut menyetujuinya. Mereka berkata, "Kita harus mempersiapkan persembahan ini dengan segera. Binatang apa yang hendak paduka bunuh?"
Sang Raja berkata, "Para pengikutku, aku bahagia kalian semua mau bekerjasama. Aku berjanji pada dewa pohon banyan bahwa aku akan mempersembahkan siapa saja yang gagal berlatih Lima Langkah Latihan (Panca Sila). Yaitu, mereka yang menghancurkan kehidupan, mengambil apa yang tidak diberikan, melakukan kesalahan dalam hal seksual, berbicara bohong, atau kehilangan akal sehatnya karena alkohol. Aku berjanji, bahwa jika ada yang melakukan hal ini, aku akan mempersembahkan nyali, daging, dan darah mereka pada altar dewa yang hebat tersebut!"
Karena begitu percayanya akan tahayul, semua yang berada diaula menyetujuinya bahwa hal ini harus dilakukan, atau dewa tentunya akan menghukum raja dan semua yang ada dalam kerajaan itu.
Sang raja berpikir, "Ah, begitu hebatnya kekuatan tahayul sampai-sampai semua orang kehilangan akal sehatnya! Mereka tidak dapat melihat bahwa latihan pertama adalah jangan membunuh. Jika aku mengorbankan salah satu dari mereka, akulah yang akan berada di altar! Dan dengan kekuatan seperti itu aku dapat membuat janji semacam itu, dan tidak harus melakukannya!"
Jadi, dengan keyakinan penuh pada kekuatan tahayul, sang Raja berkata kepada para pimpinan rakyat, "Pergilah ke seluruh bagian kerajaan dan umumkanlah janji yang telah kubuat kepada dewa pohon banyan. Kemudian umumkanlah bahwa seribu orang pertama yang melanggar langkah-langkah latihan akan mendapatkan kehormatan untuk menjadi persembahan, untuk memenuhi janji raja."
Demikianlah dan terjadilah, orang-orang di Benares menjadi terkenal karena mereka berhati-hati melatih Lima Latihan (Panca Sila). Dan raja yang baik tersebut, yang mengenal dengan baik pengikutnya, tidak mengorbankan siapapun.
PESAN YANG ADA:
KORBANKANLAH SENDIRI PERBUATAN SALAH ANDA, BUKANNYA BINATANG YANG TIDAK BERDAYA

http://www.geocities.com/bbcid.geo/cerita2.html#bhikkhu   (Diakses tanggal 19 maret 2009)

Brahmana Yang Memiliki Satu Jubah


Brahmana Yang Memiliki Satu Jubah

Cerita Brahmana Kecil Bermantel Satu, Cula Ekasataka ini disampaikan Sang Buddha pada saat Beliau berdiam di Jetavana.
Seorang brahmana bernama Maha Ekasataka hidup pada masa Buddha Vipassi, dan terlahir kembali pada kehidupan saat ini di Savatthi sebagai Yang Berjubah Satu, Cula Ekasataka. Cula Ekasataka dan isterinya masing-masing memiliki satu baju dalam dan mereka hanya memiliki satu jubah luar untuk mereka pakai berdua. Jadi bila salah seorang di antara mereka ingin meninggalkan rumah, yang seorang lagi harus tinggal di rumah. Pada suatu hari diumumkan bahwa akan ada pembabaran Dhamma di vihara. Brahmana itu berkata kepada isterinya :
"Isteriku, telah diumumkan bahwa akan ada pembabaran Dhamma pada siang atau malam hari. Karena kita tidak memiliki jubah luar untuk kita berdua, jadi kita tidak dapat pergi pada waktu yang bersamaan."
Isteri brahmana itu menjawab :
"Suamiku, saya akan pergi pada siang hari saja."
Setelah mengenakan jubah luarnya, ia lalu pergi ke vihara.
Sang brahmana tinggal di rumah pada siang hari. Pada malam hari, dia pergi ke vihara, duduk di depan Sang Guru dan mendengarkan pembabaran Dhamma. Sementara mendengarkan Dhamma, timbullah di dalam dirinya lima macam rasa bahagia, perasaan ini menyelimuti seluruh tubuhnya. Dia sangat ingin mempersembahkan sesuatu kepada Sang Guru, namun pemikiran ini menghalanginya :
'Bila saya memberikan jubah ini kepada Sang Guru, tidak akan ada lagi jubah yang tersisa bagi saya dan juga isteri saya.'
Seribu pikiran yang mementingkan diri sendiri timbul di dalam dirinya dan kemudian timbul satu pikiran yang penuh dengan keyakinan untuk berdana. Kemudian timbul lagi pikiran yang mementingkan diri sendiri mengalahkan pikiran penuh keyakinan untuk berdana. Pikirannya berperang antara keinginan untuk berdana dan mementingkan dirinya sendiri:
'Saya akan mendanakannya!' 'Tidak, saya tidak akan mendanakannya!'
Sementara pikirannya berperang, waktu jaga pertama sudah lewat, tibalah waktu jaga ke dua, sampai saat itu, dia belum juga berhasil memutuskan untuk mempersembahkan jubahnya kepada Sang Buddha. Pada waktu jaga yang terakhir tiba, akhirnya sang brahmana berpikir :
'Sementara saya 'berperang' dengan pikiran yang penuh keyakinan untuk berdana dan mementingkan diri sendiri, dua waktu jaga terlewati. Bila kekuatan pikiran yang mementingkan diri sendiri ini bertambah, hal ini akan menghalangi saya untuk bangkit mengatasi Empat Keadaan Penderitaan. Oleh karena itu, saya akan mempersembahkan dana saya.'
Sang brahmana akhirnya dapat mengalahkan seribu pikiran yang mementingkan diri sendiri dan mengikuti pikiran yang penuh keyakinan untuk berdana. Dengan membawa jubahnya, ia meletakkannya di kaki Sang Buddha dan berseru dengan lantang:
"Telah saya kalahkan! Telah saya kalahkan!"
Raja Pasenadi Kosala kebetulan sedang mendengarkan Dhamma, ketika mendengar teriakan itu, ia berkata :
"Tanyakan kepadanya, apa yang telah dikalahkannya."
Pengawal Raja menanyakan hal itu kepada sang brahmana, dan sang brahmana menjelaskan kejadiannya kepada mereka. Ketika Raja mendengar penjelasan tersebut, dia berkata :
"Tidaklah mudah melakukan apa yang telah dilakukan oleh sang brahmana. Saya akan melakukan kebaikan untuknya."
Dia lalu menyuruh memberikan sepasang jubah kepada sang brahmana. Sang brahmana mempersembahkan jubah ini kepada Sang Tathagata. Kemudian Raja melipat gandakan pemberiannya, memberikan kepada sang brahmana mula-mula dua pasang jubah, kemudian empat, delapan dan pada akhirnya enam belas pasang. Sang brahmana mempersembahkan semua jubah ini kepada Sang Tathagata. Kemudian Raja memerintahkan untuk memberi 32 pasang jubah kepada sang brahmana. Agar sang brahmana tidak menyerahkan seluruh jubah yang diterima, sehingga dia tidak mempunyai jubah untuk dirinya sendiri, Raja berkata kepada brahmana itu :
"Simpanlah sepasang jubah untuk dirimu sendiri dan sepasang lagi untuk isterimu."
Setelah berkata demikian, Raja meminta sang brahmana untuk menyimpan dua pasang jubah dan mempersembahkan ke tiga puluh pasang jubah kepada Sang Tathagata. Meskipun sang brahmana akan mendanakan apa yang dimilikinya sebanyak seratus kali, Raja akan memberinya hal yang sama.
Raja memberi perintah kepada pengawalnya:
"Sungguh suatu hal yang sulit untuk melakukan apa yang telah dilakukan oleh sang brahmana. Ambil dua selimut saya dan bawa ke ruang pertemuan."
Pengawal melakukannya. Raja menghadiahkan kedua selimut yang bernilai seribu keping uang itu kepada sang brahmana. Namun sang brahmana berkata sendiri :
"Saya tidak pantas menyelimuti diri saya dengan selimut ini. Selimut ini hanya pantas untuk Sang Buddha."
Lalu salah satu selimut itu dibuatnya sebuah langit-langit dan digantungkannya di atas tempat tidur Sang Guru. Kemudian selimut yang satu lagi, digantungkan di atas tempat dia menyambut para bhikkhu pada saat menerima dana makanan di rumahnya.
Pada malam hari, Raja mengunjungi Sang Buddha, melihat selimut itu, dia bertanya kepada Beliau:
"Yang Mulia, siapakah yang mendanakan selimut ini ?"
"Ekasataka," jawab Sang Guru.
Raja lalu berpikir:
'Seperti saya yakin dan berbahagia dengan keyakinan saya, demikian pula sang brahmana, yang juga yakin dan berbahagia dengan keyakinannya.'
Raja lalu menghadiahkan empat gajah, empat kuda, empat ribu keping uang, empat pelayan wanita, dan empat desa yang terbaik kepada sang brahmana, Raja memberikan sang brahmana pemberian yang semuanya berjumlah masing-masing empat.
Para bhikkhu membicarakan hal ini di Ruang Dhammasala :
"Betapa hebat hasil dari perbuatan baik Cula Ekasataka. Segera setelah melakukan perbuatan baik, hasil dari perbuatan baiknya langsung diterimanya."
Sang Guru mendekati para bhikkhu dan bertanya :
"Para bhikkhu, apakah yang sedang kalian diskusikan ?"
Ketika para bhikkhu memberi tahu, Beliau mengatakan :
"Apabila Cula Ekasataka memutuskan untuk memberikan dananya kepadaKu pada waktu jaga pertama, dia akan mendapatkan hadiah yang masing-masingnya berjumlah 16. Bila dia memutuskan untuk memberikan dananya kepadaKu pada jaga kedua, dia akan mendapatkan hadiah yang masing-masing jumlahnya delapan, namun karena dia memberikannya pada saat menjelang akhir dari waktu jaga terakhir, maka dia hanya mendapatkan pemberian yang masing-masingnya berjumlah empat. Seseorang yang ingin melakukan perbuatan baik, seharusnya tidak mengabaikan dorongan untuk berbuat baik yang timbul di dalam dirinya, dan harus melakukannya segera. Suatu perbuatan baik yang terlambat dilakukan, akan mendatangkan manfaat, namun manfaat tersebut akan tertunda. Oleh karena itu, begitu dorongan untuk berbuat baik timbul di dalam diri seseorang, dia harus segera melakukan perbuatan baik itu."
Setelah berkata demikian Sang Guru lalu mengucapkan syair:
"Bergegaslah melakukan perbuatan baik, Jauhkan batin dari kejahatan.
Bila seseorang lambat di dalam melakukan kebaikan, Batinnya akan senang dalam kejahatan."